Kemuliaanitu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun [63]: 8). Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah.[5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa' (4) ayat 138-139 di atas. TakAda Kebenaran Yang Hakiki Kecuali Milik ALLAH SWT Minggu, 13 Desember 2015. Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya Kebenaranitu milik Allah bukan milik produk pemikiran manusia. Sehebat apa pun cara orang berpikir tidaklah disebut hasil pemikirannya adalah kebenaran. Sekalipun yang dirujuk ayat-ayat Allah, bila tercampur dengan hasil olahan akal pikiran, maka keluarannya (output) tetap masih tidak dapat disebut sebagai kebenaran. Unukhanya perlu memanjat sedikit saja gunung tinggi untuk menyelamatkan diri sedangkan putera Nabi Nuh as sediri yang bernama kan'an pun tenggelam ditelan banjir walaupun berada di puncak gunung! Sungguh besar sekali badan Si Unuk ini. Ketika banjir sedang berlaku, hanya puncak gunung Ararat di Turki saja yang tampak dari permukaan air bah. Wallahuya'lamu wa antum la ta'lamun, Allah Swt lah yang mengetahui (maksud-maksud kebenaran yang dikandung realitas ayat-ayat yang kita baca) dan kalian tak mengetahui, begitu tutur al-Qur'an. Seyogianya, nalar dan rohani kita lalu senantiasa berada di derajat legawa demikian di antara jubelan takwil dan paham apa saja. Tak patut ada Apapunyang kita punya adalah milik-Nya yang hanya dipinjamkan kepada kita. Kebenaran hakiki bersifat mutlak dan tidak dibatasi oleh waktu. Sedangkan yang lain termasuk kebenaran manusia, adalah kebenaran relatif, dan dibatasi oleh waktu. Tak terhitung banyaknya contoh kebenaran di bidang medis, yang dulunya dianggap sebagai benar, saat VC1Ml7. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_274194" align="aligncenter" width="300" caption="images ..... kebenaran hakiki’ definisi pengertiannya merujuk kepada suatu yang bersifat tetap-baku-hakiki-tak bisa berubah dan tak ada sesuatu pun yang bisa merubahnya kecuali tentu sang penciptanya,sehingga pengertiannya diparalelkan dengan kebenaran yang sesungguhnya’ - kebenaran sejati’ Kebenaran hakiki itu juga merupakan suatu yang otonom dari manusia dalam arti tidak bergantung kepada pandangan - persepsi manusia,sebagai contoh apapun pandangan manusia terhadap realitas adanya kematian dibalik kehidupan maka realitas adanya kematian dibalik kehidupan itu akan tetap ada, tak akan berubah menjadi tidak ada,apapun pandangan manusia terhadap hakikat api maka hakikat api tidak akan berubah,apapun pandangan manusia terhadap alam semesta serta berbagai organnya hakikat alam semesta yang mekanistis tetaplah tidak akan berubah Kebenaran hakiki itu pun bersifat tunggal - menyatu dalam arti tak ada unsur - perkara lain yang bisa menyaingi serta mengatasi nya sehingga meruntuhkan derajat ke hakiki an nya,sehingga mustahil ada dua atau lebih hal yang essensinya serba berlawanan yang sama sama benar secara hakiki,seperti api itu hakikatnya panas sebab itu bila ada pernyataan yang menyebut hakikat api dingin’ maka pernyataan itu tak bisa disebut sama benar’ dengan pernyataan yang menyebut hakikat api sebagai panas Karena bersifat tunggal maka hakikat itu tak bisa diruntuhkan oleh suatu penampakan lahiriah yang ber aneka warna - ber aneka wajah,misal hakikat Tuhan itu satu sehingga bila di alam lahiriah ada banyak golongan manusia yang menyebut serta menyembah tuhan secara berbeda beda maka itu bukan berarti hakikat Tuhan itu banyak,sehingga kita harus berfikir mana Tuhan yang sebenarnya hakiki ? ... dengan kata lain hakikat Tuhan hanya mungkin ada satu sebagaimana mustahilnya keserba tertataan alam semesta di kendalikan oleh dua atau lebih konsep yang berbeda yang berasal dari dua atau lebih fikiran tuhan yang berlainan,sehingga bila tuhan nampak 'banyak' maka itu pasti adalah hasil persepsi manusiawi,dan mengapa ada utusan Tuhan yang mendeskripsikan konsep Tuhan yang esa tiada lain agar manusia tidak tersesat oleh persepsi persepsi manusiawi yang keliru dalam hal masalah ketuhanan ..... Sehingga suatu yang pada permukaannya dipandang orang sebagai suatu yang nampak sama’ atau nampak berbeda’ tak bisa lantas secara otomatis dikatakan hakikatnya semua sama atau hakikatnya semua berbeda Sehingga karena bersifat tunggal dalam artian tak ada unsur lain yang bisa meruntuhkan derajat ke hakikian nya maka kebenaran hakiki itu pengertiannya menjadi identik dengan kebenaran yang bersifat mutlak Kebenaran hakiki itu tidak diciptakan oleh manusia artinya ia tidak bergantung kepada eksistensi manusia,keberadaan planet planet itu andaikan tak pernah ditemukan oleh manusia maka hakikatnya ia akan tetap ada,dalam arti manusia hanyalah penangkap ada’ nya planet planet bukan pencipta’ hakikat keberadaan planet planet Atau andai kata anda tidak pernah ada atau tidak pernah dilahirkan maka hakikat api tetaplah panas dan ketika anda dilahirkan anda hanya menangkap hakikat api bukan menciptakan hakikat api,dengan kata lain manusia adalah penangkap’ hakikat bukan pencipta’ hakikat,sebab bila manusia pencipta hakikat maka ia bisa merubah hakikat yang sudah ada dan menggantinya dengan hakikat yang baru Sebab itu untuk menangkap dan memahami definisi kebenaran hakiki’ maka kita harus berupaya menempatkannya sebagai suatu yang otonom - diluar manusia dengan jalan melepaskannya dari berbagai atribut tambahan yang disematkan oleh berbagai persepsi manusiawi Manusia diberi seperangkat peralatan yang bersifat fisik dan non fisik untuk menangkap dan memahami serta meyakini adanya kebenaran yang bersifat hakiki itu,yaitu dunia indera-akal dan hati,dunia indera untuk menangkap fakta lahiriah - empirik,akal untuk menangkap hakikat adanya konstruksi dibalik yang nampak serta hati untuk menangkap hakikat adanya unsur yang bersifat personal Dengan dunia indera kita maka kita bisa menangkap adanya suatu yang tetap - baku tak berubah mulai dari awal mula pertama kehidupan di bumi ada hingga hari ini yaitu adanya perputaran antara siang - malam,adanya kehidupan yang berakhir dengan kematian,adanya pergantian dari muda menjadi tua, sifat api yang tetap panas,unsur unsur dasar pembentuk tanah,udara,air dan api yang tetap ,termasuk bentuk wujud tubuh manusia serta binatang binatang,serta teramat banyak hal hal yang bersifat TETAP lainnya yang manusia bisa temukan termasuk yang manusia temukan dalam dunia sains seperti ketetapan yang membentuk hukum fisika Dengan akal nya manusia bisa menangkap bahwa dibalik konstruksi hukum kehidupan dualistik yang serba tetap yang menata kehidupan manusia sehingga dunia berputar antara siang - malam,dari kehidupan ke kematian,atau adanya mekanisme yang menata alam semesta sedemikian rupa sehingga kehidupan menjadi sedemikian tertata nya itu pasti adanya sang peñata-sang desainer sebab mustahil wujud keserba tertataan itu bisa berasal dari kebetulan,dan akal bisa memastikan adanya sang desainer itu walaupun sang desainer itu bersifat abstrak sebab rumusan akal tidaklah sepenuhnya bergantung pada bukti tangkapan indera yang langsung,kepastian yang ditangkap akal itu disebut kebenaran rasional’ Dengan hatinya maka manusia bisa menangkap adanya wujud personal yang bukan manusia yang serba maha yang memiliki kehendak serta maksud tujuan tertentu dibalik semua yang diciptakannya secara tertata sebab sebagaimana juga semua beragam wujud benda yang memiliki bentuk yang serba tertata yang ada di alam nyata mustahil bisa terlahir dengan sendirinya melainkan berasal dari desain fikiran manusia yang mana dibalik itu tersembunyi kehendak kehendak manusia,dibalik kursi ada gambaran tentang kehendak manusia untuk maksud tujuan apa kursi itu dibuat,demikian apalagi dengan wujud benda lain seperti kendaraan bermotor atau sebuah komputer. Dan Itulah dunia alam lahiriah menjadi cermin dari difahaminya dunia alam abstrak oleh peralatan penangkap dunia abstrak yang ada pada diri manusia Nah bentuk kebenaran seperti ini sebenarnya yang ingin digambarkan seorang Socrates kepada kaum Sopies yang senantiasa berpandangan bahwa kebenaran itu bersifat relatif’,dan kebenaran seperti ini pula yang mulai ditinggalkan kembali oleh para filosof pos mo yang alur pemahamannya terhadap kebenaran kembali ke alam fikiran kaum Sopies Nah kebalikan dari kebenaran hakiki adalah sesuatu yang tidak hakiki - sesuatu yang bersifat relative yang orang sebut sebagai kebenaran relative, misal, persepsi-gambaran-khayalan manusiawi atau segala suatu yang ada atau berputar dalam alam fikiran manusia yang bisa berubah ubah dari waktu ke waktu atau berbeda beda dari satu orang ke orang lain,dan bentuk kebenaran yang bersifat relative diantaranya adalah isme gambaran kebenaran’ menurut kacamata sudut pandang manusia yang sebagaimana kita tahu senantiasa berubah ubah dari zaman ke zaman,di saat tertentu faham rasionalisme dianggap merupakan parameter kebenaran’ dan setelah berbagai problematika tak bisa di selesaikan oleh faham itu maka para pemikir membuat kacamata sudut pandang atau isme lain Jadi yang bersifat relative itu sebenarnya bukanlah kebenaran nya itu sendiri tetapi pandangan manusia terhadap kebenaran yang adalah berbeda beda dari satu kepala ke kepala lainnya,sehingga bila kita ingin berpegang pada kebenaran yang sejati tentu kita jangan bersandar pada segala suatu yang hanya beredar dalam kepala manusia tetapi harus bersandar kepada suatu yang ada diluar kepala manusia Makna kebenaran hakiki’ akan selalu berkaitan dengan dunia abstrak-dunia tak kasat mata sebab dunia alam lahiriah adalah limpahan dari dunia abstrak-gaib,atau dengan kata lain perwujudan dari sebuah eksistensi yang bersifat abstrak yang ada di dunia gaib,sebagaimana contoh analoginya, seorang ibu yang mengurusi anak anaknya dengan telaten tanpa rasa lelah adalah limpahan dari adanya suatu yang bersifat abstrak yang ada dalam hatinya yiatu adanya rasa cinta kasih sayang,sepasang manusia yang bersatu dalam rumah tangga di ikat oleh suatu yang bersifat abstrak rasa saling mencintai,seorang pelukis menorehkan sesuatu yang bersifat abstrak kedalam kanvas nya dan banyak lagi contoh lain yang bila ditelusuri hingga ke asal muasalnya yang terdalam semua yang bersifat lahiriah itu berasal dari yang abstrak-non fisik-bersifat fikiran Dengan kata lain yang abstrak - gaib adalah tempat menapak atau melekatnya segala suatu yang bersifat lahiriah sebagaimana tembok sebuah gedung besar yang nampak mata melekat pada konstruksi besi beton yang tak nampak langsung,sehingga segala suatu yang bersifat lahiriah itu hakikatnya bisa difahami dengan jalan menelusuri sebab - akibatnya hingga ke dunia abstrak Sebab itu akan sulit memahami apa itu makna kebenaran hakiki’ bagi seorang yang terlalu terbiasa menggunakan kacamata metodologi sains untuk melihat dan menilai segala suatu,sehingga ia selalu menuntut bukti empirik yang mutlak langsung terhadap segala suatu yang berhubungan dengan problem keilmuan padahal pengertian kebenaran hakiki’ itu bersifat abstrak serta terletak pada hal hal yang bersifat abstrak Sebagai contoh, seorang ayah yang memukuli anaknya maka tidak salah bila kita mengatakan hakikatnya ia sebenarnya menyayangi anaknya’,tetapi apa yang ada dihatinya itu tidak bisa dibuktikan melalui bukti empirik langsung sebab bersifat abstrak,tetapi yang bersifat abstrak itulah yang sebenarnya mengendalikan perilaku sang ayah terhadap anaknya Jadi dengan cara pandang yang bagaimana manusia bisa memahami kebenaran yang bersifat hakiki ? .. jawabnya adalah bila manusia bermata dua’,artinya bisa melihat dunia alam lahiriah dan dunia abstrak,dunia fisik -non fisik,dunia materi - non materi secara berimbang sehingga ia bisa menelusuri sebab - akibat dari segala suatu yang ada di alam lahiriah hingga bisa tembus sampai ke alam abstrak - gaib,sebagai contoh analoginya, bila seseorang melihat perilaku - perbuatan lahiriah manusia ia bisa menelusurinya hingga ke sebab terawal nya yaitu niat nya-fikirannya-kehendak nya,sebab itu pada yang abstrak itulah terletak hakikat dari tiap perbuatan lahiriah manusia Nah analogi demikian juga bisa kita terapkan untuk memahami adanya hal hal yang bersifat lahiriah seperti adanya wujud keserba tertataan di alam semesta termasuk keserba tertataan wujud manusia bahwasanya bila kita telusuri hingga ke sebab paling awal nya yaitu hingga menembus dunia abstrak maka kita akan menemukan hakikat yang sebenarnya Sehingga karena itu yang harus saya tekankan adalah bahwa kebenaran hakiki yang ada di dunia abstrak itu tidak akan difahami oleh orang yang berkacamata sudut pandang materialist atau orang yang berkacamata sudut pandang bermata satu’ yang beranggapan bahwa yang nyata dan yang benar = segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera dan atau yang bisa dibuktikan secara empirik Sehingga betapapun kita beradu argumentasi tentang kebenaran hakiki’ dengan seorang yang berkacamata sudut pandang materialist - dengan seorang yang selalu menggunakan kacamata sains sebagai parameter tunggal kebenaran mutlak maka dijamin tidak akan pernah akan saling bersambungan ….. Di zaman ini saat fikiran manusia banyak dikendalikan oleh isme isme tertentu,oleh pemikiran ala pos mo yang sudah tidak lagi berfikir tentang hal hal yang bersifat hakiki maka pemahaman tentang kebenaran hakiki’ itu harus di reka ulang kembali Dengan kata lain di zaman ini tugas para pemikir kebenaran hakiki’ sebenarnya menjadi jauh lebih sulit ketimbang apa yang dilakukan seorang Socrates terhadap kaum Sopies sebab di zaman ini tantangannya sudah demikian canggih dan semakin beraneka warna Sehingga di zaman ini upaya untuk mendeskripsikan hakikat adanya yang hanya mungkin satu’ dibalik realitas yang beraneka warna tidaklah mudah masuk kedalam fikiran orang orang tertentu,sebab dalam fikiran manusia tertentu seperti telah tertanam suatu pandangan seolah realitas yang beragam ini berasal dari hakikat yang berbeda beda’ atau dengan bahasa lain berasal dari tuhan yang banyak’ sehingga tugas para pemikir kebenaran hakiki’ adalah bagaimana meruntuhkan pandangan seperti itu untuk menunjukkan bahwa kebenaran hakiki itu hakikatnya berwajah tunggal - ada pada yang satu,sebagaimana matahari yang dibuat hanya satu untuk semua manusia Dan itulah ke aneka ragaman warna warni kehidupan dunia dengan berbagai perbedaan di dalamnya adalah ujian tersendiri bagi para pencari kebenaran sejati untuk mencari kebenaran sejati yang hakikatnya hanya mungkin ada satu Dan pelajaran tentang adanya kebenaran hakiki yang hanya mungkin ada satu itu sebenarnya telah kita peroleh di sekolah dasar dulu ketika guru kita saat memberi ujian kenaikan memberikan pilihan jawaban untuk di pilih pilih a - b - c - d atau e ? ... maka sang guru tentu saja tidak akan mengatakan 'semua pilihan jawaban itu benar' sebab pernyataan itu bisa merusak logika karena essensi dari tiap pilihan jawaban itu dibuat berbeda beda bahkan berlawanan satu sama lain Lalu mengapa prinsip demikian tidak kita terapkan dalam melihat dan memahami realitas yang beragam yang essensinya berbeda beda dan bahkan berlawanan satu sama lain ? Lihat Filsafat Selengkapnya Berbicara masalah kebenaran, saya jadi teringat dengan firman Allah di dalam 2Al Baqarah 147 yang berbunyi “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. Dari ayat ini kita semua bisa memahami bahwa setiap kebenaran itu haruslah merujuk kepada apa yang telah Allah firmankan kepada setiap manusia. Sehingga jika ada suatu konsep kebenaran lain yang di ciptakan/dirumuskan oleh seseorang ataupun sekelompok orang diluar daripada ketetapan Allah, maka sesungguhnya konsep tersebut akan tertolak, sebagus apapun konsep tersebut. Sebuah konsep kebenaran yang tidak bersumber dari ketetapan Allah wahyu, maka tidak lain itu adalah merupakan hasil dari buah pikiran akal manusia yang merujuk kepada hawa nafsu serta ro’yunya sendiri. Dan bukankah sifat manusia itu cenderung kepada kezaliman dan cenderung menuruti kehendak hawa nafsunya yang tak terkendali? Andaikata ada seseorang atau sekelompok orang membuat sebuah konsep kebenaran benar menurut kehendak mereka, dan mereka pun ikut bergabung, atau bahkan turut menguatkan serta melestarikannya, maka pada hakikatnya mereka telah melanggar dan menentang firman Allah. Karena pada ayat yang telah tersebut diatas, Allah juga mengingatkan agar setiap manusia sekali-kali tidak ragu akan kebenaran yang bersumber dari Allah. Maka sudah tentu, mereka orang-orang yang membuat konsep kebenaran menurut kehendaknya sendiri termasuk orang-orang yang ragu, sehingga merasa enggan atau bahkan bersikap arogan terhadap kebenaran yang telah ditetapkan Allah. Padahal sudah jelas firman-firman Allah tidak ada keraguan sedikitpun dan merupakan petunjuk paling utama bagi orang-orang yang bertakwa Lihat 2Al Baqarah 2. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang akhi dan ukhti berintrospeksi, sejauh manakah rasa tunduk-patuh akhi dan ukhti semua terhadap kebenaran yang bersumber dari Allah wahyu? Apakah anta dan anti termasuk kepada orang-orang yang ragu, arogan, atau malah antipati terhadap hal ini? Na’udzubillah… Saya yakin bahwa akhi dan ukhti sekalian bukan seperti yang tersebut di atas, dan senantiasa ingin berada didalam sebuah kereta yang didalamnya berisi akan nilai-nilai kebenaran hakiki, yang memiliki seorang masinis yang membawa akhi dan ukhti semua kepada tempat yang dituju sesuai dengan harapan dan keinginan, sehingga selamat, aman dan tak kurang suatu apapun. Islam Din yang Universal Maka Jalani Secara Kaffah Keseluruhan Mengingat dunia ini diciptakan oleh Allah beserta pasangannya, kalu tidak putih ya hitam, kalau tidak terang ya gelap, kalau tidak siang ya malam, kalau tidak surga ya neraka, begitupun kalau tidak benar ya pasti salah. Dan di dalam menjalani kehidupan ini, Allah memberikan dua jalan kepada manusia, yaitu jalan menuju kepada ridho-Nya surga dan jalan menuju kepada kemurkaan-Nya neraka. Dan saya yakin, setiap orang pasti rindu untuk mendapatkan surga-Nya. Dan dalam hal ini kuncinya hanya satu Berjalanlah di jalan yang menuju kepada ridho-Nya, titik! Konsekuensinya, orang yang menginginkan surga Allah itu harus mau, tunduk, patuh kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah. Masuk serta ikutilah din Allah keseluruhannya. Sebagaimana telah Allah perintahkan di dalam 2Al Baqarah 208 yang artinya “Hai orang-orang yang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah keseluruhannya, dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan”. Dinul Islam itu tidak hanya berisi soal ibadah-ibadah ritual saja, tapi berisi tentang seluruhnya yang mencakup semua aspek kehidupan. Dimana disana terdapat juga ilmu ekonomi, politik, social, budaya bahkan pemerintahan Daulah. Dan ayat diatas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku beriman, mereka diperintahkan oleh Allah untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan. Maka mau tidak mau, suka maupun tidak suka, terpaksa ataupun rela, mereka harus menjadikan segala sesuatunya berdasarkan Islam. Ekonomi yang digunakan adalah ekonomi Islam, politiknya politik Islam, sosial kemasyarakatannya juga Islam, budayanya budaya Islam, sampai kepada pemerintahannya pun harus pemerintahan yang Islam Daulah Islam. Hal ini sebenarnya sudah merupakan kewajiban bagi orang-orang yang mengaku beriman, karena keimanan seseorang tidak cukup hanya dengan di teguhkan dalam hati, ataupun di ucapkan dengan lisan saja, tapi juga harus direalisasikan secara sempurna dan konsekuen. Dan tidak ada istilah iman setengah-setengah, yang sekiranya akan menguntungkan dirinya maka dia iman, tapi jika ada yang tidak menguntungkan dirinya maka dia tidak iman. Orang-orang yang seperti ini oleh Allah di cap sebagai orang yang kafir dengan sebenarnya. Firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rosul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan Rosul-rosul-Nya, dengan mengatakan “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir kepada yang sebahagian yang lain”, serta bermaksud dengan perkataan itu mengambil jalan tengah diantara yang demikian itu iman atau kafir, merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang yang kafir itu siksaan yang menghinakan” 4An Nisa 150-151. Ayat tersebut jelas diperuntukan buat para sekuleris. Dimana mereka hanya menerima Islam setengah-setengah. Disatu sisi mereka menerimanya dan disisi yang lain mereka menolak. Contoh Disatu sisi mereka mengerjakan sholat, shoum, zakat dan haji ibadah ritual, akan tetapi disisi yang lain, katakanlah bermu’amalah, mereka tidak menggunakan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah, apalagi dalam menegakkan hukum-hukum-Nya. Seperti hukuman bagi para pezina, para pencuri, dan lain sebagainya. Mereka itulah orang-orang yang berdasarkan ayat di atas termasuk orang yang kafir, atau paling tidak mereka ragu untuk menerima aturan-aturan Islam seluruhnya. Sehingga meskipun mereka seorang yang ahli sholat, yang mungkin sampai berbekas di wajahnya tanda bekas sujud, akan tetapi dia tidak beriman atau ragu dengan aturan-aturan Allah yang lain, maka sangat disayangkan sekali kalau dia tetap saja tergolong kepada orang-orang sekuler itu tadi. Mungkin mereka menyangka kalau mereka sudah berbuat sebaik-baiknya, padahal sesungguhnya mereka justru telah berbuat yang sia-sia dan merugi. Hal ini telah Allah terangkan dalam firmannya yang berbunyi “Katakanlah “Apakah mereka hendak Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” 18Al Kahfi 103-104. Ayat selanjutnya dari surat Al Kahfi ini, Allah menerangkan tentang siapa yang Allah maksud sebagai orang yang rugi dan sia-sia perbuatannya serta tidak bernilai dihadapan Allah, meskipun perbuatannya tersebut berupa kebaikan atau amal sholih. Kata Allah “Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat”. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, mungkin akhi dan ukhti ada bertanya Apa iya orang yang sudah berbuat kebaikan, apalagi dengan mengerjakan sholat siang dan malam dikatakan sia-sia dan tidak ada nilainya di mata Allah? Dan bagaimana bisa saya menyimpulkan kalau orang yang rajin mengerjakan ibadah sholat yang mungkin diiringi juga dengan ibadah-ibadah yang lain seperti shoum, zakat, dan juga pergi haji, bisa menjadi tidak ada nilainya di hadapan Allah. Padahal ayat diatas sepertinya tidak dikhususkan buat orang-orang yang tersebut diatas? Jawaban saya Memang betul ayat tersebut diatas tidak dikhususkan bagi orang-orang yang rutin mengerjakan ibadah sholat. Dan mengenai penilaian daripada ibadah-ibadah sholat mereka itu sebenarnya merupakan hak prerogatif Allah semata, manusia tidak ada campur tangan dalam hal tersebut. Akan tetapi yang ingin saya pertegas dari ayat tersebut diatas adalah pernyataan Allah yang menyatakan bahwa orang-orang yang rugi, sia-sia, serta amalan-amalannya dihapus itu adalah mereka yang “kufur terhadap ayat-ayat Allah”. Dan setiap orang harus mengakui, memahami serta meyakini, kalau ayat-ayat Allah itu tidak tok berisi tentang perintah-perintah sholat saja, atau shoum saja, atau zakat serta haji saja, bukankah begitu? Bukankah ayat-ayat Allah itu juga berisi tentang bagaimana bermu’amalah, bagaimana menegakkan hukum, dan bagaimana memanage roda pemerintahan yang baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang telah Allah ajarkan kepada manusia. Bukankan demikian? Sehingga akhirnya, hal ini menjadikan kewajiban bagi orang-orang mu’min seluruhnya untuk menerima serta melaksanakan aturan-aturan Allah keseluruhannya secara sempurna dan konsekuen. Satu-satunya Kebenaran Hakiki Jika seseorang ataupun sekelompok orang telah menerima serta melaksanakan Islam secara kaffah, sempurna dan konsekuen, maka yakinlah bahwa sesungguhnya inilah konsep kebenaran yang hakiki. Karena manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah, begitupun dengan dunia beserta isinya. Maka tentunya hanya Allah sajalah yang tahu bagaimana manusia seharusnya hidup, untuk apa dia hidup, serta apa tujuan dia hidup. Semua itu telah diatur oleh Allah, manusia hanya cukup bersandar serta mentaatinya saja. Akhi dan ukhti sekalian, sekali lagi saya katakan, inilah sebuah konsep kebenaran yang hakiki. Siapapun akan dipertanyakan keimanannya jika dia tidak menerima Islam secara utuh. Kita hanya cukup mengikuti petunjuk Allah dengan penuh keimanan agar kita mendapat rahmat. “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” 7Al A’raaf 203. Sebagai langkah awal untuk menuju kepada konsep kebenaran yang hakiki tersebut, terlebih dahulu hendaknya seseorang tidak ragu dan beriman kepada aturan Islam seluruhnya. Diiringi dengan iman, insya Allah pandangan serta fikiran akan menjadi terbuka dan hati akan menjadi hidup. Iman itu bersemayam di dalam hati. Dan hati yang hidup adalah hati yang senantiasa berhubungan dengan Allah. Tanpa iman yang kukuh, maka Islam yang Allah kehendaki tidak akan dapat di hidupkan dalam kenyataan. Hati yang beriman akan mendesak seseorang untuk senantiasa berusaha melaksanakan Islam yang universal menyeluruh, Islam yang syamil integral, dan kamil sempurna. Hati para sahabat dimurnikan dengan tauhidulloh dan disuburkan dengan wahyu Allah. Maka contohlah para sahabat bagaimana mereka dengan hati yang tauhid serta hati yang tumbuh dengan wahyu Allah bisa melaksanakan sekaligus mengelola amanat-amanat Allah, sepeninggal daripada Muhammad Rosululloh saw. Hakikat Keimanan Bagi setiap orang yang mengaku beriman, maka esensinya dia wajib menjalani segala sesuatu yang telah diimaninya itu, sehingga sudah sepatutnyalah didalam hati mereka tergerak keinginan untuk menghidupkan sekaligus memunculkan isi daripada Kalamullah serta hudan Rosul. Namun jika tidak, maka keimanannya itu haruslah dipertanyakan, jangan-jangan imannya itu hanya bohong belaka munafik. Sebagaimana Allah mensinyalir di dalam 2Al Baqarah 8, yang berbunyi “Diantara manusia ada yang mengatakan “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. Keimanan orang-orang tersebut diatas adalah imannya orang-orang munafik, yang hanya berujar di lisannya saja, akan tetapi realitanya mereka mengabaikan apa-apa yang mereka katakan. Maka sungguh amat besar kebencian Allah terhadap apa yang mereka katakan itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu pebuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” 61Ash Shoff 2-3. Oleh karena itu, setelah seseorang menyatakan bahwa dirinya beriman, maka keimanannya tersebut harus disertai dengan pembuktian, yaitu dengan bersungguh-sungguh serta bercita-cita untuk menghidupkan din Allah di muka bumi ini. Dan dari sini pula nantinya keimanan sesorang akan di uji oleh Allah. Allah berfirman “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, sedang Allah belum mengetahui dalam kenyataan orang-orang yang berjihad diantara kamu…” 9At Taubah 16. Jihad di sini artinya bersungguh-sungguh. Sungguh-sungguh di dalam memperjuangkan din Allah di muka bumi, memperjuangkan syari’at Allah yang selama ini terabaikan. Yang selama ini kitabullah hanya di jadikan permainan atau senda gurau, yang selama ini hanya di jadikan sebagai pelengkap aksesoris atau almari, atau bahkan di jadikan sebagai azimat. Sungguh ironi, dimana kitab suci Al Qur’an yang seharusnya di jadikan sebagai pedoman serta acuan di dalam menjalani segala aspek kehidupan, malah justru tergeserkan oleh acuan atau pedoman hidup yang lain, yang justru tidak jelas asal muasalnya, yang justru amat sangat diragukan keabsahannya, dan semua itu hanyalah hasil produk makhluk sok pintar, seolah-olah melebihi Allah dan Rosul-Nya. Na’udzubillah… Kesimpulan Bagi orang-orang yang ingin mendapat kebenaran, maka dia wajib memperhatikan pon-poin di bawah ini. Yang pertama, setiap orang wajib meyakini bahwa kebenaran itu datangnya hanya dari Allah, kepunyaan Allah lah konsep kebenaran yang hakiki. Sehingga setiap orang harus senantiasa merujuk kepada Kitabullah wa sunnaturrosul. Dan diluar dari itu sudah pasti salah, karena tidak memiliki sumber yang hak dan shohih. Selain dari itu, konsep kebenaran di luar aturan dan petunjuk Allah, sangat diragukan serta sulit dipertanggungjawabkan. Maka cukuplah ikuti kebenaran yang datangnya dari Allah, Robb semesta alam, Pelindung serta Pengatur seluruh alam dan jagad raya ini. “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” 6Al An’aam 153. Yang kedua, setiap mu’min wajib menjalani din nya secara kaffah keseluruhan, karena Islam adalah din yang universal menyeluruh, syamil integral, dan juga kamil sempurna. Dan sangat tidak dibenarkan seseorang menjalaninya secara setengah-setengah yang sekiranya enak, tidak merugikan dirinya, maka dia akan iman dan melaksanakannya, akan tetapi jika ada yang tidak enak, memberatkan dirinya, maka dia akan meninggalkannya. Orang-orang yang seperti inilah yang oleh Allah di golongkan sebagai orang yang kafir dengan sebenarnya. Yang ketiga, setiap orang yang hendak mencari serta hendak melangkah di dalam sebuah konsep kebenaran yang datang dari Allah, maka terlebih dahulu hendaknya dia tumbuhkan rasa keimanan yang teguh, tanpa sedikitpun keraguan daripadanya. Niscaya dari sini akan muncul suatu gerakan yang mendorong dia untuk berpartisipasi di dalam menegakkan din Allah di muka bumi. Sehingga Islam yang tengah dia yakini dan jalani perjuangkan, akan menjadi Islam yang mengarah kepada kedinamisan haraki, dan bukan Islam yang mandeg, statis, sebagaimana orang sering salahartikan. Dan point yang terakhir atau yang keempat, yang perlu diperhatikan adalah adanya refleksi dari keimanan yang teguh sebagaimana point yang ketiga, yaitu jihad fi sabilillah. Dimana bentuk dari usaha-usaha menegakkan din Allah di muka bumi ini adalah dengan jihad bersungguh-sungguh. Namun dalam hal ini, orang sering mengartikan serta menganggap jihad merupakan suatu bentuk gerakan yang keras, ekstrim, serta radikal. Ini adalah merupakan suatu anggapan yang kurang tepat. Mereka itulah justru orang-orang yang belum paham dengan Islam sesungguhnya, dan sama sekali belum mengerti tentang hakikat daripada perjuangan. Sesungguhnya, jihad bukanlah suatu bentuk kekerasan, akan tetapi tepatnya adalah bentuk aplikasi dari ketegasan dalam rangka merebut kembali kedaulatan Allah yang telah dirampas oleh para tirani yang sekuler. Jihad pun tidaklah selalu identik dengan suatu gerakan fisik saja, tapi jihad juga bisa dilakukan dengan jalan menyebarkan berita-berita Allah melalui tulisan untuk disampaikan kepada seseorang, sekelompok orang dan atau kepada semua orang bergantung situasi dan kondisi serta kepentingan yang ada. Dan jihad pun bisa dilakukan dengan berdialog, diskusi, atau bahkan seminar, yang semua itu intinya dalam rangka bersungguh-sungguh berupaya menghidupi kembali cahaya Allah yang nyaris padam. Jadi tidak melulu dengan adu fisik, adu otot, ataupun adu senjata. Tapi itu pun tetap saja bisa terjadi manakala kesungguhan-kesungguhan yang tengah dilakukan justru mendapatkan respon yang negatif, tindakan kekerasan, intimidasi, atau sampai kepada pernyataan perang. Maka otomatis orang yang tengah bersungguh-sungguh itu tadi menjadi bangkit dan bergerak mempertahankan diri, karena hakikat berperang dalam Islam adalah manakala Islam itu diperangi serta dizolimi. Jihad juga merupakan bias daripada bentuk keimanan yang benar, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” 49Al Hujuraat 15. Lihat juga ayat yang senada di dalam 8Al Anfaal 74. Penutup Inilah kiranya beberapa kelumit uraian yang dapat saya sajikan kehadapan akhi dan ukhti sekalian yang tengah haus akan ilmu dalam rangka menempuh perjalanan mencapai ridho-Nya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat serta bisa di jadikan sebagai bahan pemikiran akhi dan ukhti semua. Apa yang saya uraikan disini sama sekali tidak bermaksud hendak mengklaim antara si benar dan si salah karena saya pun bisa jadi orang yang tersalah, dan andai saja saya memang tersalah maka sepenuhnya akan saya terima. Akan tetapi satu hal yang ingin saya minta dan harapkan kepada akhi dan ukhti sekalian bersedialah kiranya untuk mengkaji kembali ayat demi ayat yang telah saya nukilkan dalam rangkaian tulisan ini. Ayatnya sudah sangat jelas, dan mustahil Allah salah dalam firman-Nya. Dan saya pun dalam rangka memposisikan ayat demi ayat yang Allah terangkan kepada manusia sesuai dengan maksud dan tujuannya. Anta dan anti boleh menganggap ini sebuah wacana, dan saya sama sekali tidak berniat memaksakan kehendak saya kepada anta dan anti sekalian, karena jika saya memaksakan kehendak saya, maka sesungguhnya saya telah melanggar etika da’wah Islam itu sendiri. “Tidak ada paksaan untuk memasuki din Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” 2Al Baqarah 256. Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengklaim diri saya itu benar. Akan tetapi saya yakin kalau keteguhan hati serta konsep kebenaran yang telah saya uraikan disini adalah merupakan sebuah kebenaran hakiki yang datang dari Allah, karena insya Allah setiap gerak langkah, kalimat yang saya ucapkan, dsb. akan senantiasa saya optimalkan untuk merujuk serta mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dan di ajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya, karena sebaik-baik perkataan itu adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Rosululloh saw. Akhirnya saya mohon agar dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya jika dalam penyampaian tulisan saya ini banyak kesalahan serta kekurangan. Kurang, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki dan salah karena diri ini merupakan hamba Allah yang dhoif yang tidak luput dari sejuta kesalahan. Kepada Allah lah saya mohon ampun. Allahu alam bishowwab. Billahi fi sabilihaq. Alhamdulillahi Robbil alamin. Buat Facebook Comment, klik disini Allah SWT berik petunjuk bagi siapapun yang dikehendaki. Berdoa kepada Allah/ilustrasi — Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah SWT. Tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah memberikan petunjuk dan memudahkan seseorang beriman, bila orang itu mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat yang telah disampaikan kepada para rasul-Nya. Sebagai konsekuensi ketidakpercayaan, Allah memandang hina dan mengazab setiap orang yang tidak mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat-Nya. Kendati demikian, urusan hidayah pada dasarnya adalah hak prerogatif Allah SWT. Mengutip Tafsir Alquran Al-Adhim, karya Ibnu Katsir, berikut ini 10 ayat yang menegaskan otoritas hidayah hanya ada pada Allah SWT Yunus ayat 99-100 وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 99 وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ 100 “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." Hai Muhammad, niscaya Dia mengizinkan seluruh penduduk bumi untuk beriman kepada apa yang disampaikan olehmu kepada mereka, lalu mereka beriman semuanya. Akan tetapi, hanya Allah-lah yang mengetahui hikmah dalam semua apa yang dilakukan-Nya. Pengertiannya semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firmannya. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Tafsir Surat an-Nisa’ 138-139 }بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ~ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ للهِ جَمِيعًا {~ Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. An-Nisa’ 138-139 Tafsir Ayat Allah Swt. menyatakan kepada Rasulullah saw. agar beliau memberitahukan “kabar gembira” kepada orang-orang munafik, yaitu azab yang sangat pedih Basysyir al-munâfiqîn bianna lahum adzâb[an] alîma. Allah sengaja menggunakan kata basysyir beritahukanlah “kabar gembira”. Hanya saja, “kabar gembira” yang disampaikan kepada mereka bukannya pahala atau surga, melainkan azab. Penggunaan kata basyârah kabar gembira dalam konteks seperti ini merupakan uslûb tahakkum gaya bahasa sarkasme,[1] dengan maksud untuk menghina mereka. Padahal azab yang akan ditimpakan kepada mereka adalah azab yang sangat pedih, sebagaimana yang dinyatakan dengan kata alîm sangat pedih yang merupakan bentuk mubâlaghah klimaks, yang dimaksud tidak lain adalah neraka jahannam. Allah Swt. kemudian menjelaskan ciri kemunafikan mereka, yaitu mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dan teman setia dengan meninggalkan orang-orang Mukmin al-ladzîna yattakhidzûna al-kâfirîna awliyâ’ min dûni al-mu’minîn. Menurut Ibn al-Abbas, orang-orang kafir yang dijadikan pelindung dan teman setia orang-orang munafik—dalam konteks turunnya ayat—ini adalah Yahudi Bani Qaynuqa’.[2] Mereka beranggapan, kemuliaan kekuatan dan kemenangan itu akan berpihak kepada orang kafir, sehingga mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dan teman setia. Namun, anggapan tersebut dibantah oleh Allah dengan istifhâm inkâri pertanyaan retoris apakah mereka mencari kemuliaan pada mereka orang-orang kafir itu ayabtaghûna indahum al-izzah?[3] Pertanyaan tersebut tidak memerlukan jawaban, karena jawabannya sudah jelas. Sebab, mustahil mereka bisa menemukan kemuliaan tersebut pada orang-orang kafir. Sesungguhnya kemuliaan itu semuanya hanya milik Allah fainna al-izzata li Allâhi jamî’a. Dalam kalimat tersebut, Allah menggunakan huruf fa at-taqîb untuk menyatakan sebab, yang mempunyai konotasi “menjelasan alasan” penolakan Allah terhadap kemustahilan mencari kemuliaan pada selain Allah.[4] Dengan begitu, seakan-akan Allah hendak menyatakan, “Mungkinkah mereka mencari kemuliaan pada mereka orang-orang kafir?” Jawabannya, “Tentu, tidak mungkin.” Sekalipun jawaban ini tidak dinyatakan secara eksplisit, dengan pertanyaan yang berbentuk penegasian itu orang pasti bertanya, “Mengapa tidak mungkin?” Karena itu, Allah menjelaskan alasan-Nya, “Sebab, sesungguhnya kemuliaan itu semuanya hanya milik Allah fainna al-izzata li Allâhi jamîa.” Allah menegaskan alasan-Nya dengan menggunakan huruf ta’kîd stressing/ penegasan inna dan lâm li hashr yang berfungsi untuk mengkhususkan, yaitu li Allâh hanya milik Allah; ditambah lagi dengan al li al-istighrâq yang berfungsi menyedot pada kata al-izzah semua kemuliaan; dan dikuatkan lagi dengan kata jamîa semuanya. Semua itu semakin menguatkan kesan bahwa seluruh kemuliaan—baik yang ada di langit dan bumi maupun di dunia dan akhirat—hanya milik Allah. Memang disebutkan pula bahwa kemuliaan itu ada pada selain Allah, seperti Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya وَِللهِِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ ~ Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. QS al-Munafiqun [63] 8. Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah.[5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa’ 4 ayat 138-139 di atas. Wacana Tafsir Hakikat Nifâq dan Kemuliaan al-Izzah Nifâq diambil dari kata nafiqâ’ bukan dari nafaq. Nafiqâ’ adalah salah satu ruang bagi yarbû’ jerboa, binatang sejenis tupai, yang sebagian ruangannya ditutupi, sementara sebagian yang lain dibuka. Kata nifâq dengan konotasi seperti ini sangat populer di kalangan orang Arab. Al-Quran memberikan konotasi lain, yaitu “di dalam Islam mempunyai wajah yang berbeda dengan di luar Islam” atau munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَاخَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ Bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Sebaliknya, bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian; kami hanyalah berolok-olok.” QS al-Baqarah [2] 14. Konotasi kata nifaq tersebut sebelumnya belum pernah dikenal oleh orang Arab. Artinya, istilah dan konotasi tersebut benar-benar merupakan istilah syarî yang diperkenalkan oleh Islam.[6] Dengan demikian, nifâq adalah sikap menyembunyikan apa yang ada dalam hati batin yang berbeda dengan apa yang ada di permukaan lahir.[7] Dalam hal ini, taqiyyah—sekalipun ada taqiyyah yang kemudian dibolehkan, sedangkan nifâq tidak—termasuk bentuk nifâq. Orangnya disebut munâfiq. Menurut al-Jurjani, munâfiq adalah orang yang memberikan kesaksiannya sebagai orang yang beriman dan melaksanakan perintah dan larangan Allah, tetapi tidak meyakininya.[8] Orang munafik memang kata-kata dan janjinya sulit dipercaya. Di samping itu, mereka adalah para pengkhianat yang tidak pernah amanah.[9] Mereka adalah orang-orang oportunis yang menjilat sana-sini untuk mencari peluang demi keuntungan pribadi mereka. Ketika orang lain berjuang dengan mengorbankan harta, darah, dan waktu, mereka hanya duduk di belakang sebagai penonton. Giliran orang lain berhasil, mereka maju ke depan menampilkan dirinya seolah-olah mereka adalah pejuang. Mereka tidak mau menanggung risiko, tetapi ingin untung. Inilah sifat orang-orang munafik. Padahal, keimanan menuntut pengorbanan sebagai bukti kebenaran imannya. Tanpa itu, keimanan tersebut tidak akan pernah tampak. Allah Swt. berfirman أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? QS al-Ankabut [29] 2. Surat an-Nisa’ ayat 138-139 tersebut juga menjelaskan ciri-ciri orang munafik, antara lain, menjadikan orang kafir sebagai pelindung dan teman setia wâlî. Menjadikan orang kafir sebagai wâlî juga berkonotasi meminta bantuan, berteman dan membangun cinta kasih di antara mereka, dan sebagainya.[10] Surat an-Nisa’ ayat 140 juga menjelaskan, bahwa ikut nimbrung dalam pembicaraan dengan orang kafir juga dilarang. Ini juga merupakan ciri lain orang munafik. Sebab, dengan itulah, mereka akan terlibat dengan orang-orang kafir untuk membuat makar terhadap Islam dan kaum Muslim, sementara sikap nifâq—yang notabene tidak ingin memnaggung risiko—itu cenderung mengikuti apa yang dikehendaki oleh orang-orang kafir. Ini merupakan sifat nifâq yang—merupakan konsekuensi dari sikap oportunis mereka— paling berbahaya. Tentu karena ada anggapan, bahwa sikap itulah yang akan mendatangkan kemuliaan mereka. Padahal, tidak ada kemuliaan kecuali hanya dengan kembali kepada Allah. Allah Swt. sebagai Pemilik segala kemuliaan— akan memberikan kemuliaan kepada Rasul-Nya, juga kepada orang-orang Mukmin, karena mereka menaati-Nya. Dengan kata lain, kemuliaan itu seharusnya dicari dengan jalan menjadikan Allah dan orang-orang Mukmin sebagai wâlî pelindung dan penolong mereka, bukan orang kafir. Wacana Tafsir Bahaya Sikap Nifâq Melihat realitas nifâq di atas, jelas bahwa sikap seperti ini sangat berbahaya. Bahaya sangat dahsyat yang akan selalu mengintai sikap hipokrit ini adalah muwâlah al-kuffâr ber-wâlî kepada orang kafir; menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia dan pelindung serta meminta bantuan dan membangun cinta kasih dengan mereka. Bahkan, ketika sikap hipokrit dan muwâlah tersebut sampai pada klimaksnya, pasti akan menjadi ancaman yang mematikan bagi umat, jika mereka hanya berdiam diri, tidak mengubahnya. Akibatnya, mereka akan tertimpa berbagai kenistaan, kehinaan, dan musibah. Contoh terbaik adalah kondisi yang dialami oleh kaum Muslim saat ini. Para penguasa mereka adalah orang-orang oportunis yang sanggup menjual diri mereka untuk menjadi kaki tangan negara-negara kafir agar dapat atau tetap berkuasa. Mereka tidak berani mengucapkn kata “Tidak!” terhadap setiap keinginan dan kemauan negara imperialis kafir. Bahkan, mereka dengan senang hati memata-matai, menangkap, menyiksa, dan membunuh rakyatnya sendiri untuk mendapatkan keridhaan tuan mereka, yakni negara-negara imperialis kafir itu. Mereka terhipnotis oleh propaganda negara-negara imperialis kafir, bahwa kemuliaan ada di pihak mereka. Mereka tidak sendiri, karena mereka juga didukung oleh agen-agen intelektual; baik yang berbaju ulama, ilmuwan, ataupun pakar. Mereka adalah orang-orang munafik. Mereka beranggapan bahwa dengan ber-muwâlah kepada orang dan negara-negara imperialis kafir itu mereka akan mendapatkan kemuliaan. Padahal, sebenarnya semuanya itu hanya ilusi; persis seperti yang digambarkan oleh Allah dalam al-Quran مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. QS al-Ankabut [29] 41. Allah mengibaratkan kemuliaan yang dibangun dengan dukungan, bantuan, dan uluran tangan dari orang kafir itu laksana rumah laba-laba yang sangat rapuh dan hina. Akan tetapi, kebanyakan orang munafik itu tidak sadar. Bagaimana Benazir Buttho, yang menjadi presiden Pakistan atas dukungan Amerika, akhirnya dijatuhkan, kemudian digantikan dengan Nawaz Sharif. Nawaz Sharif juga sama, dijatuhkan melalui kudeta militer yang juga didalangi Amerika hingga berhasil menaikkan Musharraf. Hal yang sama juga dialami oleh Soekarno dan Soeharto. Kemuliaan ilusif mereka akhirnya rontok dengan hina, sebagaimana hancurnya rumah laba-laba yang begitu mudah, dan sangat hina. Inilah realitas yang tidak disadari oleh orang-orang munafik. Sebab, mereka sanggup melakukan apa saja untuk meraih tujuan sesaat mereka. Karena itu, orang-orang munafik itu bukanlah orang Mukmin, sehingga Allah tidak menyebutnya dengan menyatakan faulâika hum al-mu’minûn Mereka itulah orang-orang Mukmin. Sebaliknya, Allah menyatakan فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ Mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman. QS an-Nisa’ [4] 146. Mereka juga layak diganjar dengan siksaan yang amat dahsyat, yakni dengan ditempatkan di bagian neraka yang paling bawah, dan mereka tidak akan pernah menemukan satu penolong pun untuk menolong mereka dari azab Allah itu. Allah Swt. berfirman إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. QS an-Nisa’ [4] 145. Wacana Tafsir Mengubah Kemunafikan menjadi Kemuliaan Nifâq merupakan dosa besar. Setiap perbuatan dosa bisa ditebus dengan bertobat kepada Allah. Dalam kasus nifâq, Allah telah menetapkan cara bagi orang munafik agar dosanya diampuni oleh Allah dan kemunafikannya berubah menjadi kemuliaan Pertama, mereka harus bertobat, yaitu meninggalkan sikap nifâq-nya. Hal itu mengharuskannya bersikap istiqâmah konsisten lahir-batin. Bukan lahirnya menyatakan A, sementara batinnya menyatakan B. Kedua, mereka harus memperbaiki niat dan amal mereka ishlâh, tidak riya. Ketiga, mereka harus berpegang teguh pada Allah i’tshâm bi Allâh, yakni dengan cara berpegang teguh pada Kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya, apapun risiko dan konsekuensinya; sekalipun harus mengorbankan harta, darah, dan kedudukan mereka. Keempat, mereka harus memurnikan agama dan keberagamaannya hanya untuk Allah ikhlâsh dînihim li Allâh, yaitu tidak mengharapkan yang lain, selain Allah Swt. Semata; sekalipun untuk itu ia harus menuai berbagai cacian dan makian para pencaci maki. Jika kemunafikan tersebut berhasil diakhiri, sebaliknya empat langkah yang ditetapkan oleh Allah di atas ditempuh, maka pasti Allah akan memuliakan mereka, dan memberikan kemuliaan yang hakiki, bukan kemuliaan semu dan ilusif. Mereka, bersama-sama orang-orang Mukmin, akan mendapatkan pahala dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. [Hafidz Abdurrahman, MA.] [1] As-Shabûni, Shafwah at-Tafâsîr, juz I, hlm. 314. [2] Al-Qurthûbi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, juz V, hlm. 417. [3] As-Shabûni, Ibid, juz I, hlm. 314. [4] As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 526; al-Baydhawi menyebutnya fâ’ isti’nâf yang berfungsi memulai kalimat baru, yang berkonotasi ta’lîl atau ta’qîb; untuk menjelaskan alasan mengapa mustahil mencari kemuliaan pada selain Allah, sebab kemuliaan itu hanya milik Allah. Lihat, al-Baydhâwi, Tafsir al-Baydhâwi, juz III, hlm. 207. [5] As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 526. [6] Ibn Mandhûr, Lisân al-Arab, juz X, hlm. 358. [7] Al-Baydhawi, Tafsîr al-Baydhâwi, juz II, hlm. 268; An-Nawâwi, Syarh Shahîh Muslim, juz II, hlm. 47. [8] Al-Jurjâni, at-Ta’rîfât, juz I, hlm. 60. [9] An-Nawâwi, Syarh Shahîh Muslim, juz II, hlm. 46. [10] An-Nabhâni, as-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, Dâr al-Ummah, Beirut, cet. III, 1994, juz II, hlm. 264. Wallahualam bissawab dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya. Seringkali kita terjebak pada situasi dimana terdapat lebih dari satu cara pandang dari suatu masalah. Masing-masing memiliki dalil atau dasar pemikiran yang sama-sama kuat dan dilandasi dengan berbagai macam contoh kejadian di masa lalu yang memperkuat pemikiran tersebut. Semakin kita merasa telah memahami suatu konsep pemikiran semakin kita yakin pada apa yang kita yakini benar. Sebagai orang yang beriman, sudah selayaknya keyakinan kita pada ajaran agama yang kita anut haruslah total dan terpelihara. Yang dimaksud terpelihara disini adalah apa yang kita lakukan hendaklah sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diajarkan agama. Yang bisa menjadi masalah adalah ketika pemahaman dan cara pandang kita seringkali berbeda-beda berdasarkan apa yang kita lihat, rasakan dan alami yang akhirnya menjadi keyakinan yang kita pegang teguh. Disinilah masing-masing kita sebagai orang beriman harus lebih berhati-hati ketika mengatakan bahwa pemahaman kita adalah yang paling benar. Al Qur’an mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia, baik dia seorang muslim maupun non muslim. Al Qur’an juga menyatakan bahwa Allah tidak memerlukan apapun dari makhluk ciptaannya. Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa ternyata apa yang diperintahkan maupun dilarang oleh Allah melalui Al Qur’an maupun kitab-kitab sebelumnya adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. Ketika menjalankan ajaran Al Qur’an sesuai pemahaman dan keyakinan yang timbul dari dalam diri kita maupun guru kita dan ketika ternyata hasilnya adalah sesuatu yang menimbulkan perdebatan dan bahkan perpecahan, akan lebih mulia di sisi Allah apabila masing-masing kita memilih bersabar dan kembali merenung dan melakukan introspeksi dibandingkan menempuh jalan kekerasan. Hal ini lebih mudah dilakukan apabila kita memegang prinsip bahwa hanya Allah yang maha benar dan manusia adalah makhluk-Nya yang cenderung pada khilaf dan kesalahan. Marilah kita sama-sama berlatih memelihara keimanan kita dan selalu ber-istghfar ketika kita merasa yang paling benar, karena kebenaran hakiki hanya milik Allah sang pencipta. Wallahualam bissawab.

kebenaran hakiki hanya milik allah