MusthafaAl-Shuk'ah, anggota Lembaga Riset Islam Mesir. Ia menolak pendapat yang menyebutkan bahwa penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam adalah didasarkan pada 'israiliyat'. "Mereka yang mengatakan 'israiliyat' harus takut kepada Allah," ujarnya lagi. Penegasan yang sama juga dikemukakan oleh DR. Ahmed Taha, guru besar fiqh lintas mazhab. Singkatcerita istri Nabi Syam'un yang tergiur imbalan dari raja Israil, membantu percobaan pembunuhan terhadap Nabi Syam'un. Karena sayangnya dan cintanya kepada istrinya, nabi Syam'un pernah berkata: "Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku." Israiliyatadalah sebuah kabar atau kisah yang bersumber dari kaum Yahudi dan Nasrani. Penuturan mereka tentang israiliyat merujuk kepada kitab-kitab terdahulu mereka seperti Zabur, Taurat dan Injil. Terkait hal ini, dalam khazanah tafsir al-Qur'an kisah-kisah tersebut kenapa dinamakan al-israiliyat; tidak lain karena penggunaan israiliyat sebagai KisahIsrailiyat • Nabi Lut tinggal di gunung dekat bandar Shauar. • Nabi Lut tinggal di Syam • Keduanya anaknya menghidangkan arak serta berzinamenyebabkan kehamilan. Iaitu Muabiyin dan Amuniyin • Nabi Lut mempunyai 3 org anak. Kedua anaknya mati berbaki satu 12. BABKEEMPAT CONTOH-CONTOH ISRA'ILIYYAT 1. Kisah Harun dan Marut 2. Makhluk-makhluk Jelmaan 3. Pembinaan Ka'bah Baitullah al-Haram dan Hajar al-Aswad 4. Kisah at-Tabut 5. Kisah Nabi Daud AS membunuh Jalut 6. Kisah Para Nabi dan Umat Terdahulu 7. Kisah Diriwayatkan tentang Nabi Adam AS 8. Kisah Tubuh Badan al-Jabbarinyang Besar dan khurafat Uj bin Uq MUSLIMIDIACOM - Kisah Cerita Nabi Idris Lengkap. Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam, putra dari Yarid bin Mihla'iel (Mahlail) bin Qinan (Qainan) bin Anusy bin Shiyth (Syits) bin Adam A.S. Nabi Idris as menjadi keturunan pertama yang diutus menjadi nabi setelah Adam. Dalam agama Yahudi dan Nasrani, Idris dikenal dengan nama Henokh. T5jWY. Apabila menyentuh tentang Israiliyat, ramai di kalangan kita yang masih belum faham sepenuhnya maknanya. Adakah ia berkaitan dengan nama orang ataupun sesebuah kaum yang pernah hidup di Tanah Arab? Hakikatnya istilah ini harus diladeni oleh setiap orang Islam kerana ini adalah satu istilah yang telah dimanipulasi oleh bangsa Yahudi sejak berpuluh-puluh tahun dengan misi untuk mengelirukan umat Islam. Kumpulan cerita yang dinisbahkan kepada bangsa Yahudi secara umum disebut sebagai Israiliyat. Namun dalam pembahasan mengenai tafsir al-Quran dan hadis Nabi SAW, kisah Israiliyat bukan sahaja dialamatkan kepada tradisi agama Yahudi, malah kepada agama Nasrani dan hikayat lain yang terangkum dalam tradisi Yahudi-Kristian. Israiliyat boleh berbentuk tulisan mahupun narasi yang ditemukan dalam kesusasteraan Islam, khususnya tafsir dan hadis. Israiliyat menjadi isu penting dalam Islam sejak meluasnya penafsiran dan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis Nabi SAW. Al-Quran dan hadis merupakan dua sumber pengetahuan dan hukum Islam yang memerlukan pemahaman dan penafsiran. Sebahagian dari kisah Israiliyat dibenarkan dan diterima oleh kaum Muslim tetapi sebahagian lagi ditolak. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat dapat terus bertanya kepada Nabi SAW mengenai penafsiran dan pemahaman ayat al-Quran serta hadis dan Nabi SAW dapat menjelaskan kepada mereka maksud dari al-Quran dan hadis itu. Sebahagian sahabat puas hati dengan penjelasan Nabi SAW, namun sebahagian lagi tidak khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan sejarah masa lalu. Untuk itu, mereka lalu menanyakan penjelasan lebih terperinci kepada sahabat-sahabat Nabi SAW yang sebelumnya beragama Yahudi dan Nasrani. Tidak semua penjelasan sahabat Nabi SAW yang bekas Yahudi dan Nasrani bersumber dari fakta sejarah yang tertulis dalam kitab suci kedua agama itu. Seringkali penjelasan mereka melibatkan unsur psikologi dan pengalaman peribadi mereka selaku bekas penganut tradisi Yahudi-Nasrani. Bahkan beberapa doktrin teologi Yahudi-Nasrani juga kerap kali masuk dalam penjelasan mereka ketika menafsirkan suatu ayat atau hadis. Umumnya, kisah-kisah nabi dan rasul dalam tradisi Islam dikemukakan dengan mengambil inspirasi dari tradisi Israiliyat, baik Yahudi mahupun Nasrani. Dalam al-Quran, kisah-kisah tersebut seringkali disampaikan dalam bentuk pesanan moral sahaja. Contohnya, kepercayaan mengenai turunnya Isa al-Masih sebagai al-Mahdi di kalangan Ahlu Sunnah wal Jamaah merupakan kepercayaan yang berasal dari Israiliyat. Mitos Hawa yang dibuat dari tulang rusuk Adam juga termasuk Israiliyat. Setelah Nabi SAW wafat, informasi tentang Israiliyat tersebar lebih luas tanpa penapisan. Apalagi keterangan-keterangan itu datang daripada para sahabat Nabi SAW yang dihormati seperti Ka’b al-Ahbar dan Abdullah bin Salam, dua bekas penganut agama Yahudi yang tinggal di Madinah. Pada masa generasi sesudah sahabat, Israiliyat mula mendapat perhatian serius kerana banyak riwayat yang tidak lagi hanya bersifat penafsiran sejarah tetapi sudah masuk persoalan akidah dan hukum. Para ahli hadis menjadi sangat selektif dalam menerima riwayat yang dianggap sebagai sabda Nabi SAW atau sahabat. Riwayat-riwayat Israiliyat paling banyak dtemui dalam kitab-kitab tafsir. Bahkan tidak ada satu kitab tafsir pun yang luput dari sentuhan Israiliyat. Tafsir-tafsir besar seperti Jami’ al-Bayan karya at-Tabari, Tafsir al-Quran al-Azim karya Ibnu Kasir dan Tafsir al-Alusi karya Syihabuddin al-Alusi adalah karya-karya tafsir berpengaruh yang banyak memuat riwayat Israiliyat. Bahkan Rasyid Rida, penafsir moden Mesir yang anti terhadap kisah Israiliyat, dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Manar, memuat banyak riwayat yang bersumber dari Israiliyat. Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa adalah salah satu cerita yang penting dalam tradisi agama Islam. Menurut Al-Qur'an dan hadis, Adam dan Hawa adalah pasangan pertama yang diciptakan Allah SWT. Layaknya hubungan pada umumnya, dalam kisah perjalanan mereka, juga terdapat momen yang menggugah hati saat mereka harus seperti apa kisah Nabi Adam yang terpisah dengan Hawa? Selengkapnya bisa kamu baca dalam artikel ini, ya! Keep Penyebab Nabi Adam dan Siti Hawa terpisah selama ratusan tahunIlustrasi waktu Benton Nabi Adam dan Siti Hawa sempat berpisah karena perbuatan mereka sendiri. Keduanya terhasut oleh tipu daya iblis yang berupaya menggoda keduanya agar memakan buah khuldi. Iblis melakukan hal tersebut dengan agar mereka dikeluarkan dari surga, sama seperti tindakan tersebut membuat Allah langsung menegur mereka. Allah memerintahkan mereka untuk keluar dari surga-Nya. قَالَ اهۡبِطُوۡا بَعۡضُكُمۡ لِبَـعۡضٍ عَدُوٌّ​ ۚ وَلَـكُمۡ فِى الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيۡنٍ‏ "Allah berfirman, 'Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.'" QS Al-A'raf 724 Baca Juga Pengertian Suhuf dan Nabi-Nabi yang Menerimanya 2. Tidak diturunkan di bumi dalam satu tempat yang sama Ilustrasi bumi JamesonSaat diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa tidak ditempatkan di satu lokasi yang sama. Konon, Nabi Adam diturunkan di puncak bukit Sri Pada, Sri Lanka. Berbeda dengan Hawa yang diturunkan di daerah terpisah, keduanya sama-sama harus menghadapi tantangan hidup sendiri di tempat yang sangat berbeda dengan kehidupan mereka di surga semula. Setiap hari, Adam dan Hawa saling mencari dan mendoakan agar mereka bisa dipertemukan dan bersatu kembali dengan tulus dan ikhlas kepada Allah. Mereka berharap agar Allah mendengar doa mereka dan mengabulkan keinginan mereka untuk bersama Lama Nabi Adam dan Siti Hawa terpisahIlustrasi waktu AheadSetelah terpisah selama ratusan tahun, Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan kembali di Jabal Rahmah. Mereka memulai kehidupan baru dengan tinggal di sebuah gua yang luas dan besar. Mereka diberkahi dua pasang anak kembar. Yang pertama diberi nama Qabil dan Iqlima serta yang kedua adalah Habil dan informasi, terdapat beragam pendapat yang menyebutkan mengenai lama waktu Nabi Adam dan Siti Hawa berpisah, mulai dari 200 tahun, 500 tahun, 300 tahun, atau bahkan ada yang menyebutkan 400 tahun. Tidak diketahui jelas mengenai durasi waktu perpisahan di antara keduanya. Hanya Allah yang mengetahui dengan kisah perjalanan hubungan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Semoga bisa memberikan inspirasi dan hikmah bagi kamu, ya!Penulis Natasya Yolanda Baca Juga Kisah Nu'aiman Sahabat Nabi, Lucunya Bikin Geleng-Geleng Terdapat riwayat sebutkan ular terlaknat dan tidak masuk surga. Ilustrasi ular KAIRO— Berbagai kisah tentang Nabi Adam AS dan Hawa banyak berkembang di masyarakat. Terutama tentang bagaimana Nabi Adam diusir dari surga karena melanggar larangan Allah ﷻ setelah mendapat bisikan buruk dari iblis. Ada versi kisah yang menyebutkan bahwa iblis bisa masuk ke surga dan membisiki Adam karena bantuan dari hewan ular saat itu. Iblis dikisahkan bersembunyi di antara taring ular untuk bisa masuk ke surga dan menggoda Nabi Adam AS. Karena peristiwa ini, konon ular menjadi hewan terlaknat karena berkontribusi atas terusirnya Adam. Dalam sebuah hadits yang ternyata sangat lemah sanadnya, ular disebut sebagai hewan yang harus dibunuh karena menjadi salah satu makhluk penyebab terusirnya Adam. Dari semua kisah dan riwayat di atas, benarkah cerita dan nasib ular sebagai hewan terlaknat? Dilansir dari Elbalad, cerita di atas merupakan kisah Israiliyat atau berasal dari orang-orang Israel sejak dulu. Ada juga ahli kitab yang memberikan kisah dengan versi demikian dan Ibnu Abas juga tidak meriwayatkan hadits tersebut. Penasihat Fatwa Mesir, Dr Majdy Ashour juga mengatakan, narasi bahwa ular terlaknat dan menjadi hewan yang tidak masuk surga adalah tidak benar. Hewan-hewan memang akan hadir saat hari kebangkitan, tapi bukan untuk dihitung amal dan kesalahannya, melainkan untuk menjadi saksi atas dirinya jika pernah terzalimi selama di dunia Terkait kisah Nabi Adam AS, Allah SWT berfirman فَوَسْوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ لِيُبْدِىَ لَهُمَا مَا وُۥرِىَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ ٱلْخَٰلِدِينَ Artinya “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.” QS Al A’raf 20. Melalui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada surat atau riwayat hadits yang menyebutkan tentang kisah ular yang terlaknat karena membantu iblis menggoda Nabi Adam AS. Semua narasi itu bersumber dari kisah Israiliyyat yang tidak ada bukti dalam ayat Alquran dan hadits Rasulullah ﷺ. Sumber KISAH ADAM DAN GODAAN IBLISKetika Allâh Azza wa Jalla mempersilahkan Adam Alaihissallam tinggal di surga, Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan Adam Alaihissallam untuk mewaspadai godaan Iblis karena dia adalah musuh bagi nabi Adam dan keturunannyaفَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰMaka kami berkata, “Wahai Adam! Sesunggunya dia iblis musuh bagimu dan istrimu, maka sekali-kali janganlah dia sampai mengeluarkan kalian berdua dari surga sehingga kamu akan celaka. [Thaha/20117]Ini merupakan sebentuk pemuliaan bagi nabi Adam Alaihissallam , karena Allâh telah memberitahukan kepada beliau siapa musuhnya yang akan berusaha mencelakakan beliau dan juga istrinya. Pemberitahuan akan membuat Nabi Adam Alaihissallam lebih berhati-hati dan waspada terhadap segala tipu daya ADAM ALAIHISSALLAM DAN GODAAN IBLIS Kedengkian serta kesombongan iblis tampak jelas ketika ia menolak perintah Allâh Azza wa Jalla yang menyuruhnya bersujud kepada Nabi Adam Alaihissallam . Ketika itu, iblis berusaha membela diri dengan mengemukakan alasan-alasan pembangkangannya. Disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’anقَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍAllâh berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. [Shaad/3875-76]Akibat tidak mematuhi perintah Allâh Azza wa Jalla , iblis menjadi kufur dan berhak mendapatkan laknat dari Allâh Azza wa Jalla , kemudian Allâh Azza wa Jalla mengusirnya dari surga dengan penuh memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar bisa hidup sampai hari kiamat dan Allâh mengabulkan رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿٧٩﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ﴿٨٠﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ ﴿٨١﴾ قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَIblis berkata, “Ya Rabbku! Beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan!’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya hari Kiamat.” Iblis menjawab, “Demi keperkasaan-Mu! Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis[1] di antara mereka. [Shaad/3879-83]Sejak saat itu, Iblis mulai menebarkan permusuhannya dengan Nabi Adam Alaihissallam dan ayat yang lain, disebutkan tekad kuat iblis untuk menyesatkan manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirmanقَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَIblis menjawab, Karena Engkau telah menghukumku, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari arah depan dan dari arah belakang mereka, dari arah kanan dan arah kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.’ [Al-A’râf/716- 17]Pasca keluar dari surga, Iblis membuktikan tekadnya untuk menyesatkan Nabi Adam Alaihissallam dan istrinya. Dia berusaha menggoda Nabi Adam Alaihissallam dengan berbagai cara. Yang paling jitu dan menipu yaitu ia datang kepada Nabi Adam Alaihissallam mengaku sebagai pemberi nasehat yang jujur dan ingin menunjukan sesuatu yang lebih baik kepada Nabi Adam Alaihissallam . Ini diceritakan oleh Allâh dalam al-Qura’an, diantaranya dalam firman Allâh Azza wa Jalla فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَMaka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.” Dan dia bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” [Al-A’raf/720-21]Demikianlah, untuk suatu hikmah yang dikehendaki Allâh Azza wa Jalla , akhirnya iblis berhasil menggoda Nabi Adam Alaihissallam dan istrinya. Mereka mengkonsumsi buah yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla . Akibatnya, aurat mereka terlihat dan mulailah sibuk menutupinya dengan dedaunan di surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam surat al-A’raf ayat ke 22 s/d 25, yang artinya, “Maka syaitan membujuk keduanya untuk memakan buah itu dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan tempat mencari kehidupan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”.Allâh berfirman, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu pula kamu akan PENTINGIblis akan hidup sampai hari akan senantiasa memusuhi, menggoda dan berusaha menjerumuskan manusia ke dalam api iblis yang dipergunakan untuk memerangi bani Adam hanyalah bisikan dan menghiasi sesuatu yang buruk supaya terlihat indah dalam pandangan bani AdamLaki-laki dan perempuan berkewajiban menutupi aurat mereka masing-masingDosa menyebabkan iblis terusir dari surga begitu pula Nabi Adam Alaihissallam dan istri beliau, hanya saja Nabi Adam Alaihissallam dan istri beliau segera menyadari dan mengakui kesalahan mereka lalu bertaubat dan memohon ampunan kepada Allâh Azza wa Jalla sehingga Allâh Azza wa Jalla menerima taubat mereka serta mengampuni dosa mereka.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allâh Azza wa Jalla ArticlePDF Available AbstractThis article ecxplores about isrâiliyyât in Tafsîr al-Qur'ân al-Adzim Ibn Kathir. According to the assessment of the scholarsnarrations contained in this book belong to the most it still raises a dilemma in this book, when the discoveryof some the history that is included in isrâiliyyât. Isrâiliyyât story isentered in round without any selection into a book of commentary,will be able to damage the face and purity of the interpretation of thetafsir Koran. This is, because the stories contain superstition andfalsehood that develops in the middle of the Jews and Christians, thenthey develop and distribute to the Muslims. In this book, there are atleast three categories isrâiliyyât, namely first, history isrâiliyyât whichhe put but also criticized and commented upon truth, second, storyisrâiliyyât he put but without justified and also blamed, and the third,the story isrâiliyyât the inclusion in round without comment fromhim. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Vol. XII, No. 2, Juli – Desember 2015 ISSN 1693-9867 Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Diterbitkan oleh Jurusan Tafsi Hadis dan Akidah Filsafat IAIN Surakarta Penanggung Jawab Abdul Matin Bin Salman Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Pemimpin Redaksi Nurisman Sekretaris Redaksi Tsalis Muttaqin Dewan Redaksi Islah Gusmian Ari Hikmawati Tsalis Muttaqin Waryunah Irmawati Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih Kasmuri Syamsul Bakri Redaktur Ahli Mark Woodward Arizona State University, Tempe, USA Mahmoud Ayoub Hatford Theological Seminary, Connecticut, USA Florian Pohl Emory University, Georgia, USA Nashruddin Baidan STAIN Surakarta Damarjati Supadjar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Tata Usaha Heny Sayekti Puji Lestari Gunawan Bagdiono Alamat Redaksi Sekretariat Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN Surakarta Jl. Pandawa, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo 0271 781516 Email Redaksi menerima tulisan ilmiah dari kalangan manapun tanpa mesti sejalan dengan pandangan redaksi. Redaksi berhak menyunting, dan menyempurna-kan naskah tulisan yang diterima tanpa mengubah substansinya. Adapun isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Naskah tulisan berkisar sekitar 15-20 halaman kwarto dengan spasi ganda dalam bentuk disket dan print out-nya. Naskah disertai abstrak dalam bahasa asing Arab atau Inggris. ISRÂILIYYÂT DALAM TAFSIR AL-QUR’ÂN AL-AZHÎM KARYA IBNU KATSIR Supriyanto Dosen Ulumul Qur‟an FEBI IAIN Surakarta Abstract This article ecxplores about isrâiliyyât in Tafsîr al-Qur'ân al-Adzim Ibn Kathir. According to the assessment of the scholars narrations contained in this book belong to the most valid. Nevertheless, it still raises a dilemma in this book, when the discovery of some the history that is included in isrâiliyyât. Isrâiliyyât story is entered in round without any selection into a book of commentary, will be able to damage the face and purity of the interpretation of the tafsir Koran. This is, because the stories contain superstition and falsehood that develops in the middle of the Jews and Christians, then they develop and distribute to the Muslims. In this book, there are at least three categories isrâiliyyât, namely first, history isrâiliyyât which he put but also criticized and commented upon truth, second, story isrâiliyyât he put but without justified and also blamed, and the third, the story isrâiliyyât the inclusion in round without comment from him. Key words Tafsir, Riwayat, and Isrâiliyyât. A. Pendahuluan Tafsir al-Qur‟ân al-Adzîm atau lebih dikenal dengan tafsir Ibnu Katsir, merupakan salah satu kitab tafsir yang menggunakan metode periwayatan tafsîr bi al-maktsûr dalam menafsirkan al-Qur‟an. Menurut penilaian para ulama riwayat-riwayat yang Tafsir bi al-maktsûr adalah penafsiran ayat al-Qur‟an dengan ayat, ayat dengan hadis Nabi yang menjelaskan makna sebagian ayat yang sulit dipahami oleh para sahabat, atau penafsiran ayat al-Qur‟an dengan ijtihad para sahabat dan tabi‟in. Muhammad Husein al-Dzahabi, al-Tafsîr wa al-Mufasirûn, juz. I, Mesir Dar Kutub al-Haditsah, 1972, h. 152. ; Bandingkan dengan Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005, h. 375. Dalam hal ini, Ibnu Katsir menerapkan metode ini dengan menafsirkan ayat al-Qur‟an dengan al-Qur‟an, al-Qur‟an dengan sunnah, kemudian dengan pendapat para sahabat dan juga merujuk pada pendapat para tabi‟in serta ulama salaf yang sahih. Selengkapnya lihat; Al-Imam Abu al-Fida‟ al-Hafidz Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qurân al-Azhîm, jilid. I Beirut Dar al-Fikr, 1992, h. 8-10. 2 Vol. XII, No. 2, Juli – Desember 2015 terdapat dalam kitab ini tergolong paling pada itu, al-Dzahabi juga memandang bahwa kitab ini sebagai tafsir bi-al-maktsûr yang paling baik. Namun demikian, masih memunculkan dilema tersendiri dalam kitab ini, ketika ditemukannya beberapa riwayat yang termasuk dalam isrâiliyyât,di mana riwayat ini menimbulkan citra yang negatif terhadap tafsir ini dikalangan ulama tafsir. Oleh karena itu, tulisan ini akan menampilkan beberapa kisah isrâiliyyât yang terdapat dalam kitab ini, serta menunjukan bagaimana komentar Ibnu Katsir terhadap kisah-kisah tersebut. Agar pembahasan dalam tulisan ini tidak terlalu luas maka penulis tidak akan menampilkan seluruh kisah isrâiliyyât yang terdapat dalam kitab tersebut. Dalam hal ini akan ditampilkan beberapa kisah saja guna menunjukan adanya riwayat isrâiliyyât dalam tafsir ini. B. Isrâiliyyât dalam Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir merupakan salah seorang ulama yang tidak diragukan lagi kelihaiannya dalam bidang hadis. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika ia sangat selektif dalam memasukan riwayat dalam tafsirnya. Adapun mengenai riwayat isrâiliyyât yang terdapat dalam tafsirnya tersebut sebagaima disebutkan dalam muqadimah tafsirnya dimaksudkan sebagai pengetahuan dan tidak membawa manfaat bagi agama Islam. Dalam hal ini, ia menyandarkan Lihat misalnya, Kahar Masyhur, Pokok-pokok Ulum al-Qur‟an Jakarta Rineka Cipta, 1992, h. 173, Muhammad Husien al-Dzahabi, Al-Isrâiliyyât fî al-Tafsîr wa al-Hadîts, Kairo Dar al-Hadis, h. 133. Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyyat adalah bentuk jamak dan kata israiliyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan pada bani Israil, sedangkan Israil sendiri berasal dari bahasa Ibrani, Isra bararti hamba dan il berarti Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan, Lihat Farihanti Mulyani, Masuknya isrâiliyyât dalam Penafsiran al-Qur‟an. Sedangkan secara istilah adalah kisah dan dongeng yang disusupkan dalam, tafsir dan hadits yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya yaitu Yahudi dan Nashrani. Farihanti Mulyani, Masuknya isrâiliyyât dalam Penafsiran al-Qur‟an, Jurnal al-Banjari, Volume 5, No. 9, 2007, h. 2. Juga lihat; Muhammad bin Muhammad abu Syahibah, Al-Isrâiliyyât wa al-Maudhû`ât fî Kutub al-Tafsîr, Kairo Maktabah al-Sunnah, 1408 H., Muhammad bin Muhammad abu Syahibah, h. 129 Yusuf al-Qardhawi, Berinteraksi Dengan al-Qur‟an, ter. Abdul Hayyie al-Kattani, Jakarta Gema Insani Press, 1999, h. 497. Supriyanto, Isrâiliyyât dalam Tafsir … 3 pendapatnya dalam penggunaan riwayat isrâiliyyât pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dari Abdullah bin Amru, berikut ini “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat dan bicaralah apa saja tentang bani Israil tanpa ada larangan, dan siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka baginya tempat dineraka”Namapaknya atas dasar hadis inilah Ibnu Katsir memasukan riwayat isrâiliyyât dalam kitab tafsirnya. Walaupun demikian, ia tidak memasukan riwayat tersebut mentah-mentah tanpa ada seleksi terlebih dahulu. Hal ini dapat dilihat pada sebagain besar riwayat isrâiliyyat yang terdapat dalam tafsirnya tidak luput dari komentar dan kritikannya. Selain itu, dalam tafsirnya juga terdapat beberapa riwayat isrâiliyyat yang tidak ia benarkan atau dustakan, dalam hal ini ia bersikap ini pun nampaknya ia sandarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al- Bukhari, berikut ini “Ahli kitab membaca kitab Taurat dengan mempergunakan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk dikonsumsi umat Islam. Mendengar hal itu, Nabi bersabda “janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang telah diturunkan kepada kedua hal tersebut di atas, ternyata dalam tafsir ini terdapat pula beberapa riwayat isrâiliyyat yang luput dari komentar dan kritikannya. Hal ini sangat lah mungkin terjadi, Muhammad ibnu Isma‟il al-Bukhari, Shahîh Bukhârî, Jilid IV, Beirut Dar al-Fikr, t. th, h. 320 Penafsiran ini dapat dilihat dalam misalanya ketika menafsirkan ayat ke 60 dari surah al-Baqarah, tentang kisah Nabi Musa dengan Bani Israil. Muhammad ibnu Isma‟il al-Bukhari, Jilid IV, h. 270. Hal ini dapat dilihat, misalnya dalam menafsirkan surah al-Baqarah 258; Thahaa 20; al-Nisa 1. 4 Vol. XII, No. 2, Juli – Desember 2015 karena seorang tidak akan pernah terhindar dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan tersebut di atas, menurut penulis, dalam tafsir ini terdapat tiga kategori isrâiliyyât, yaitu pertama, riwayat Isrâiliyyât yang ia cantumkan tapi juga dikritik dan dikomentarinya, kedua, kisah isrâiliyyât yang dicantumkannya tapi tidak dibenarkan dan juga disalahkannya dan yang ketiga, kisah isrâiliyyât yang luput dari penilaiannya, yaitu kisah tersebut termasuk dalam israiliyyât, namun ia tidak memberikan penjelasan bahwa itu adalah israiliyyât. C. Beberapa Kisah Isrâiliyyât dalam Tafsir Ibnu Katsir Di sini penulis akan menampilkan beberapa contoh riwayat isrâiliyyât yang terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir ini. Sebagaimana penjelasan di atas, terdapat tiga kategori dalam tafsir ini, berikut contoh dari kisah-kisah tersebut 1. Kisah Isrâiliyyât yang Dikritik dan Dikomentarinya Ibnu Katsir mencantumkan kisah ini ketika menafsirkan ayat 34 dari surah Shad, berikut ini “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah karena sakit, kemudian ia bertaubat”. Yang dimakasud jasad pada ayat ini adalah setan, sebagai mana diriwayatkan Ibnu Abas yang berkata diceritakan ada seorang yang berkata pada Nabi Sulaiman bahwa di dasar laut terdapat setan yang bernama Syahr al-Maridhah. Nabi Sulaiman lalu mencarinya ke dasar laut dan di sisi laut tersebut ternyata ia menemukan sebuah sumber mata air yang memancar sekali dalam seminggu. Pancarannya sangat jauh dan sebagian berubah menjadi arak. Ia berkata “ sesungguhnya engkau arak adalah minuman yang sangat nikmat, hanya saja menyebabkan orang yang sabar menjadi musibah dan orang bodoh bertambah kebodohannya”. Nabi Sulaiman kemudian pergi, akan tetapi di tengah-tengah perjalanannya ia merasakan dahaga yang sangat dalam lalu ia kembali ke sumber mata air tersebut dan memiminumnya sehingga hilanglah kesadarannya. Lalu Supriyanto, Isrâiliyyât dalam Tafsir … 5 datanglah setan menyerupai dirinya dan duduk di atas singgasana kerajannya. Di sini Ibnu Katsir berkomentar terhadap riwayat tersebut dan menyatakan riwayat ini palsu dan di buat-buat. Karena tidak mungkin seorang Nabi minum arak sehingga mabuk dan juga setan dapat menyerupai wajahnya dan duduk di singgasana kerajaannya. Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa pada dasarnya isrâiliyyât ini berasal dari Ibnu Abas – jika itu benar-benar darinya - yang diperolehnya dari Ahlul Kitab, di mana sebagian dari mereka ada yang tidak mempercayai kenabian dari Nabi Sulaiman dan juga mendustakannya. Kisah ini jelas mungkar karena terdapat riwayat yang ganjil. Komentar semacam ini lah yang banyak ia lakukan pada kisah isrâiliyyât dalam kitab tafsirnya. Dapat juga dilihat contoh lainya, misalnya ketika menafsirkan surah al-Naml ayat 41-43, tentang kisah Ratu Saba, dan juga tentang Iblis pada ayat ke 50 dari surah Kisah Isrâiliyyât yang Tidak Dibenarkan dan juga Disalahkannya Kisah ini terdapat pada penafsiran surah al-Baqarah ayat 67, tentang Nabi Musa dan bani Israil, berikut ini penafsirannya “Dan ingatlah, ketika Musa berkata kepada kaumnya "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir mencantumkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang berkata; bahwa ada seorang laki-laki bani Israil yang mandul, sedangkan ia mempunyai harta yang banyak sehingga anak saudaranya lah yang akan mewarisinya. Kemudian orang tersebut membunuh Al-Imam Abu al-Fida‟ al-Hafidz Ibnu Katsir al-Dimasyqi, h. 1606. Ibid., h. 1608. Ibid., h. 1397-1398. Ibid., h. 1158. 6 Vol. XII, No. 2, Juli – Desember 2015 anak ini pada malam hari dan meletakan mayatnya di depan pintu rumah salah seorang bani Israil. Ketika pagi hari tiba, maka pihak korban menuduh si pemilik rumah dan keluarganya lah yang melakukan pembunuhan tersebut sehingga merekapun mengangkat senjata dan saling menyerang. Ada salah seorang yang berfikiran bijak berkata; “Mengapa kalian saling membunuh padahal kalian mempunyai Rasul”. Maka mereka pun menemui Nabi Musa dan menceritakan kejadian tersebut. Lalu Musa berkata; “Sesungguhnya Allah menyerumu untuk menyembelih se ekor sapi betina. Mereka berkata; “Apakah engkau akan menjadikan kami bahan ejekan”. Musa menjawab; “Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku termasuk orang yang bodoh”. Mengenai riwayat ini Ibnu Katsir bersikap tawaquf, ia menyatakan kisah ini dikutip dari buku-buku bani Israil. Kisah ini termasuk kisah yang boleh dikutip, namun tidak boleh dibenarkan atau didustakan. Oleh karena itu, kisah-kisah Isrâiliyyât tidak boleh dijadikan pegangan kecuali dalam hal-hal yang sejalan dengan kebenaran Kisah Isrâiliyyât yang Luput dari Penilaiannya Adapun kisah ini dapat dilihat ketika menafsirkan surah al- Nisa‟ ayat 1, sebagai berikut “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Ibnu Katsir memaknai kata nafs wahidah pada ayat di atas dengan “tulang rusuk Adam bagian kiri”. Ibid., h. 137. Ibid., h. 138 Supriyanto, Isrâiliyyât dalam Tafsir … 7 Lebih lanjut, ia menjelaskan ketika Adam sedang tidur, diambilah tulang rusuk sebelah kirinya, kemudian waktu Adam bangun ia terkejut karena ada Hawa di sampinganya. Kisah ini nampaknya diperoleh Ibnu katsir dari cerita bani israil, karena tidak ada riwayat yang mendukung pernyataannya tersebut. Walaupun, dalam hal ini ia sandarkan pendapatnya ini pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, berikut ini “Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Rusuk yang paling bengkok adalah rusuk yang paling atas. Jika kamu hendak meluruskannya, niscaya ia akan patah. Jika kamu kamu ingin berbahagia dengannya berbahagialah, walaupun ia tetap bengkok”. Dalam hal ini, nampaknya Ibnu Katsir kurang cermat dalam mengabil riwayat sebagai dalil untuk memperkuat argumennya. Bila kita lihat teks hadis di atas, tidak ada kata yang menunjukan penciptaan Hawa dari “tulang rusuk Adam sebelah kiri yang diambil ketika ia tidur”, melainkan hanya dari tulang rusuk , dan disana juga tidak ada penyebutan secara ekspilit tentang Hawa ataupun Adam. Sementara itu, Bukhari sendiri tidak meletakan hadis ini pada bab penciptaan Adam dan keturunannya, tetapi ia cantumkannya pada bab nikah. Dari sini, dapat diperoleh pemahaman bahwa hadis tersebut nampaknya adalah sebuah pesan kepada seorang laki-laki yang hedak menikahi perempuan, janganlah berbuat kasar ataupun terlalu lembut kepada calon isterinya. Karena sifat perempuan itu bagaikan tulang rusuk, apabila dikerasi akan patah dan apabila didiamkan akan tetap bengkok. Jadi, kata pada hadis di atas bisa juga diartikan sebagai makna majasi bukan makna hakiki. Oleh karena itu, penafsiran Ibnu Katsir tersebut diduga kuat terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran isrâiliyât. Pada kisah penciptaan Hawa di atas, tidak ada rujukannya yang jelas dalam Hadis atau pun al-Qur‟an. Dalam hal ini, Rasyhid Ridha menjelaskan bahwa kisah tersebut terdapat dalam Ibid., h. 553. Ibid., h. 424. Wensink, al-Mu`jam al-Mufahras li Alf dz al-Hadîs al-Nabawi, London Maktabah Baril, 1936, hlm. 408 8 Vol. XII, No. 2, Juli – Desember 2015 perjanjian baru. Lebih lanjut ia menuturkan, seandainya tidak tercantum kisah ini dalam perjanjian baru niscaya pendapat ini tidak akan pernah ada. Senada dengan hal tersebut, Thabathaba`i dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ayat di atas menunjukan bahwa perempuan diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut tidak mendukung sedikit pun penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Dari sini dapat kita lihat adanya riwayat isrâiliyat yang luput dari pengetahuan beliau, walaupun beliau adalah seorang ahli hadis. Hal ini sangat lah mungkin terjadi, karena seorang tidak akan pernah terhindar dari kekurangan dan kesalahan. Selain kisah tersebut terdapat pula beberapa kisah yang luput dari penilainnya, diantaranya pada penafsiran tentang kisah Raja Babil dan Nabi Ibrahim pada surah al-Baqarah ayat 258, dan juga kisah tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular pada surah Thaha ayat Penutup Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kisah isrâiliyyât yang dimasukan secara bulat-bulat tanpa ada seleksi ke dalam kitab tafsir, akan dapat merusak wajah dan kemurnian tafsir al-Qur‟an. Hal ini dikarenakan kisah-kisah tersebut mengandung khurafat dan kebatilan yang berkembang di tengah-tengah bangsa Yahudi dan Nashrani, yang kemudian mereka kembangkan dan sebarkan kepada umat Islam. Tafsir al-Qur‟ân al-Azhiîm karya Ibnu Kastir ini merupakan salah satu kitab tafsir bi al-maktsûr yang terbaik, termasuk dalam pengunaan riwayat isrâiliyyât. Dalam hal ini, Ibnu katsir tidak memasukan riwayat tersebut mentah-mentah, tapi melalui seleksi yang ketat terlebih dahulu. Beliau mencantumkan beberapa riwayat isrâiliyyât tetapi juga menunjukan kejanggalan kisah tersebut. Adapaun riwayat tersebut dicantumkan tidak lain hanya sebagai pengetahuan bukan sebagai dalil. Namun demikian, perlu diketahui juga dalam tafsir ini juga masih terdapat bebrapa Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Mannâr, Beirut Dâr al-Fikr, jilid IV, h. 324-326. Thabathaba`i, Al-Mîzân fî Tafsîr alQur‟an, Beirut al-„A`lami li al-Matbuât, 1983, Jilid IV, h. 136. Al-Imam Abu al-Fida‟ al-Hafidz Ibnu Katsir al-Dimasyqi, h. 386-387. Ibid., h. 1220. Supriyanto, Isrâiliyyât dalam Tafsir … 9 kisah isrâiliyyât yang luput dari penilaianya, sehingga diperlukan ketelitian dan kejelian ketika merujuk riwayat dalam kitab ini sebagai landasan dalam menafsirkan al-Qur‟an. BIBLIOGRAFI Agama Ri, Departemen. Al-Qur‟an Dan Terjemahannya. Semarang Toha Putra, 1996 . Abu Syahibah, Muhammad bin Muhammad. Al-Isrâiliyyât wa al-Maudhû`ât fî Kutub al-Tafsîr. Kairo Maktabah al-Sunnah. 1988. Wensink. al-Mu`jam al-Mufahras li Alf dz al-Hadîs al-Nabawi. London Maktabah Baril. 1936. Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsîr . Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005. -. Tafsir Maudhu`i. Yogyakarta Pustaka Pelajar. 2001. Al-Bukhari, Muhammad ibnu Isma‟il. Shahîh Bukhârî. Beirut Dar al-Fikr. t. th. Al-Dimasyqi, al-Imam Abu al-Fida‟ al-Hafidz Ibnu Katsir. Tafsîr al-Qurân al-Azhîm. Beirut Dar al-Fikr, 1992. Al-Dzahabi, Muhammad Husein. al-Tafsîr Wa al-Mufasirûn. Mesir Dar al-Kutub Haditsah. 1976. -, Muhammad Husien. Al-Isrâiliyyât fî al-Tafsîr wa al-Hadîts. Kairo Dar al-Hadis, Al-Farmawi, Abu al-Hayy. al-Bidayah Fî al-Tafsîr al-Maudhû`i. Kairo Dâr Kutub al-Arabiyah. 1976. Hadna, Ahmad Musthofa. Problematika Menafsirkan Al-Qur‟an. Semarang Toha Putra Group. 1993. Masyhur, Kahar. Pokok-pokok Ulum al-Qur‟an. Jakarta Rineka Cipta. 1992. Mulyani, Farihanti. Masuknya isrâiliyyât dalam Penafsiran al-Qur‟an, Jurnal al-Banjari. Volume 5. No. 9. 2007. Al-Qardhawi, Yusuf. Berinteraksi Dengan al-Qur‟an, ter. Abdul Hayyie al-Kattani. Jakarta Gema Insani Press. 1999. Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsîr al-Mannâr. Beirut Dâr al-Fikr. Al-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulum Al-Qur‟an. Beirut Dar al-Fikr. 1991. Thabathaba`i. Al-Mîzân fî Tafsîr alQur‟an. Beirut al-„A`lami li al-Matbuat. 1983. Dâr al-Fikr, jilid IV, hRidha Muhammad RasyidMuhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Mannâr, Beirut Dâr al-Fikr, jilid IV, h. Pustaka PelajarNashruddin BaidanWawasan Baru Ilmu TafsîrBaidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsîr. Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005. -. Tafsir Maudhu`i. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Menafsirkan Al-Qur"an. Semarang Toha Putra GroupAhmad HadnaMusthofaHadna, Ahmad Musthofa. Problematika Menafsirkan Al-Qur"an. Semarang Toha Putra Group. Ulum al-Qur"an. Jakarta Rineka CiptaKahar MasyhurMasyhur, Kahar. Pokok-pokok Ulum al-Qur"an. Jakarta Rineka Cipta. isrâiliyyât dalam Penafsiran al-Qur"an, Jurnal al-BanjariFarihanti MulyaniMulyani, Farihanti. Masuknya isrâiliyyât dalam Penafsiran al-Qur"an, Jurnal al-Banjari. Volume 5. No. 9. RiDepartemenAl-QurAgama Ri, Departemen. Al-Qur"an Dan Terjemahannya. Semarang Toha Putra, 1996. Abu Syahibah, Muhammad bin Muhammad. Al-Isrâiliyyât wa al-Maudhû`ât fî Kutub al-Tafsîr. Kairo Maktabah al-Sunnah.

kisah israiliyat nabi adam